Minggu, 14 Oktober 2018

Selamat Jalan Lenga Ndai Didi Kurniawan




Senja itu telah berarak hampir sempurna pamit dibagian barat bumi, tinggal semburatnya yang kian pudar termakan Gelap malam yang datang. Kamis, 14 Juni 2018 hari-hari terakhir Ramadhan 1439H. Saya ingat benar, usai buka puasa ala kadarnya di kios kecil ujung timur Desa Ntonggu dan berjama'ah Maghrib di Masjid Desa kami akan berangkat balik ke rumah masing-masing. Saat di Depan SMP Teke (SMPN 1 Palibelo Sekarang) diantara kami berhenti disebuah rumah panggung yang nyaris tak berubah hampir dua dekade yang lalu. "Kita mampir jenguk Didi dulu ya lenga doho (teman-teman)" salah satu kami memberi komando. Itulah pertemuan terakhir saya dengan Didi Kurniawan.

Senin, 01 Oktober 2018

MEM-BATIK- MASA DEPAN





Batik adalah anugerah yang diberikan pada bangsa ini. Ia ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Membatik (proses pembuatan batik) tak semudah membalikan telapak tangan, namun memakan waktu dan rangkaian yang luar biasa serta syarat akan makna kehidupan.

Membatik ibarat kita mengukir masa depan. Memulai dengan memilih bahan kain yang baik, menggoreskan canting dengan kehati-hatian agar sketsa nan indah terbentuk dengan sempurna tanpa cacat, mencelup dan menjemur kain dalam suhu yang panas dengan pengorbanan yang tak sedikit.

Filosofis membantik adalah pelajaran hidup agar mengenggam masa depan tanpa mengenal lelah melalui segala apapun proses mencapainya, walau harus jatuh bangun sebagai bayarannya.

Mari membatik masa depan dalam setiap goresan imajinasi masing-masing.

Selamat Hari Batik Nasional

02102017 23:21
#IwanWahyudi
#MariBerbagiMakna


Inspirasi Secangkir Kopi

Kopi, saya rasa semua orang punya alasan kenapa menyukai, jadi penikmat atau sekedar penyeruput kopi. Bagi saya saat menyeruput kopi seakan menyerap berbagai Inspirasi yang ada dalam secangkir minuman hitam ini.

Jumat, 28 September 2018

Nasionalisme Kerinduan


Ah rindu, sebuah kata yang beberapa waktu terakhir sangat anyar karena film Dilan 1990. Salah satu isi dialog dalam film itu yang banyak menjadi meme bahkan ditiru dalam keseharian remaja : “Rindu itu berat, cukup aku saja”. Setiap kita tentu menyimpan rasa rindu. Secara umum rindu itu sebuah rasa yang sama yang berbeda adalah kadar rindu dan apa siapa rindu itu ditempatkan.

Kalau rindu dalam Film Dilan 1990 adalah rindu sepasang kekasih muda-mudi satu sekolah yang hanya dipisahkan oleh rumah tempat tinggal mereka. Maka Rindu yang lebih tinggi dari level itu adalah Rindu Anak Rantau. Mereka harus jauh dari daerah asal dengan segala isi dan rasanya. Berpisah jarak dari tanah tempat dilahirkan, keluarga yang selama ini dalam jangka panjang telah membersamai, melindungi dan menumpahkan segala kehangatan cinta, para sahabat dan orang dekat yang turut bersama menggoreskan kisah hidup bersama dalam sketsa suka maupun duka.

Perihal kerinduan ini Imam Hasan Al-Banna seorang tokoh Islam dari Mesir dalam Bukunya Risalah Dakwah melabeli rasa tersebut dengan istilah Nasionalisme Kerinduan.

“ Jika yang dimaksud dengan nasionalisme oleh para penyerunya adalah cinta tanah air, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal disekitarnya, nasionalisme seperti ini sebenarnya sudah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahankan oleh Islam. Sungguh Bila yang telah mengorbankan segalanya demi akidah dan agama, adalah juga Bilal yang mengungkapkan kerinduan pada Makkah melalui bait bait syiar yang lembut dan indah. Sungguh, Rasulullah saw pun mendengar gamabaran tentang Makkah dari Ushail, tiba tiba saja air mata beliau bercucuran, karena rindu padanya.” (Hasan Al-Banna)

Kerinduan adalah rasa yang tak boleh pudar bahkan ia harus senantiasa dipupuk agar terus tumbuh dan mengakar. Namun, jangan sampai juga kerinduan itu membatasi kita untuk mengarungi dunia melihat sisi lain kehidupan diluar tanah air kita untuk menambah wawasan, memetik Inspirasi dan menumbuhkan rasa iri (motivasi) untuk membangun kampung halaman lebih baik dibanding tempat rantauan, untuk melejitkan potensi diri agar bisa menjadi manusia yang setara bahkan lebih dibanding tempat dimana kita pernah disebut sebagai “anak rantau”.

28092018 10:50 Gedung Mandiri Lantai 1
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri
www.iwan-wahyudi.net

*)Foto Ilustrasi : Bersama Mahasiswa/I Ende UTS 2018

Tulis Bahagia dan Gagal



Tulislah setiap kebahagiaan dalam jejak hidupmu agar orang lain tau itu adalah sesuatu yang berharga. Catatlah setiap kegagalan yang engkau alami agar orang lain belajar dan terhindar dari kegagalan serupa. #reHATIwan

Rabu, 12 September 2018

Tim Terbaik


"Tim terbaik bukan yang cuma bisa mencapai atau melampaui target yang disepakati, tapi juga memiliki ketautan hati satu dengan lainnya, memahami tanpa harus dimarahi, saling berbagi beban tanpa harus dimintai. " terimakasih tim. Semangat Nusantara

Tagihan Jurnalis di Tahun Baru Islam


Lebih dari setahun setengah tak ketemu tiba-tiba beliau datang ke Asrama Kampus UTS. Kaget, bukan hanya saya beliau juga merasakan hal itu saat kemarin mengantar sang putri untuk mengabdi didunia pendidikan.